Menelusuri Keberadaan Ekor pada Manusia

Apakah Anda pernah bertanya, kenapa manusia punya tulang ekor ? Apakah dahulu memang kita punya ekor ?

Apa itu ekor ?. Ekor adalah bagian tubuh yang memanjang melewati lubang anus (postanal tail). 

Ekor memiliki berbagai macam fungsi. Ekor ikan berfungsi untuk berenang dan ekor anjing merupakan indikator emosionalnya. Kita dapat mengetahui anak anjing lagi senang ketika dia mengoyangkan pantatnya, sehingga ekornya juga bergoyang. Sebaliknya, kalau anjing merasa terancam, maka dia akan membelokkan ekor dan menempatkannya di antara kedua kaki belakangnya. 

Bagaimana dengan ekor pada manusia ?. Kita perlu mengkajinya dari segi taksonomi dan evolusi, dan pendekatan molekuler saat ini.

Secara Taksonomi Manusia masuk dalam Filum Chordata

Ekor adalah syarat atau ciri filum Chordata. Ernest Haeckel menyebut chordata sebagai Chordonia, yang terdiri atas tunicata dan vertebrata (Haeckel 1894). Keberadaan notokorda menjadi bagian penting dalam pengelompokkan ini. Selanjutnya, Balfour (1880) mengganti filum vertebrata yang diperkenalkan sebelumnya oleh Lankester (1877) menjadi filum Chordata, yang kita kenal sampai saat ini.

Para peneliti sepakat bahwa filum Chordata berasal dari nenek moyang yang sama yaitu deuterostomes. Deuterostomes secara harafiah berarti “mulut kedua” (deutero: dua; stome: mulut), dimana blastopore merupakan lubang pertama yang terbentuk pada embrio selama tahap gastrulasi (Luttrell dan Swalla 2015). Blastopore pada deuterostomes berkembang menjadi anus terlebih dahulu, seperti pada manusia. 

Filum Chordata terdiri dari 3 subfilum, yaitu urochordata, cephalochordata, dan vertebrata. Semua subfilum ini memiliki ekor, atau bisa kita katakan organ yang bisa diasosiasikan dengan ekor. Selain ekor, filum chordata memiliki ciri-ciri lain, seperti notokorda (organ berbentuk tabung yang ada pada tahap embrio), memiliki pungung/belakang tubuh (dorsal); dimana pada bagian ini terdapat sistem saraf berbentuk tabung yang membentang dari otak hingga punggung bawah (korda saraf dorsal), celah faring, miotom, dan ekor postanal (Satoh et al. 2014). 

Secara taksonomi, mengapa manusia masuk dalam filum Chordata ? Karena manusia memiliki semua ciri-ciri ini. Namun ciri-ciri ini hanya tampak jelas pada fase embrio. Fungsi notokorda akan digantikan oleh tulang belakang (kolumna vertebralis), sedangkan sisanya membentuk nukleus pulposus embrionik (Walmsley 1953).  Sumsum tulang belakang sendiri berkembang dari korda saraf dorsal pada proses neurulasi selama minggu ke- 4 kehamilan, dimana selama tahap ini lempeng saraf mengalami serangkaian gerakan morfogenetik yang mengarah pada pembentukkan tabung saraf (Catalla dan Kubis 2013). Celah faring pada manusia mengalami modifikasi dan berkembang menjadi rahang (Graham dan Richardson 2012), sedangkan miotom berkembang menjadi otot rangka sumbu tumbuh (Hollway dan Currie 2003). Seperti ciri-ciri filum chordata yang lain, ekor pada manusia juga muncul hanya pada embrio. Embrio memiliki ekor pada minggu ke- 4 hingga minggu ke-6 kehamilan, yang terdiri dari 10-12 ruas tulang belakang (Cai et al. 2011). Ekor ini akan menghilang pada minggu ke- 8. Dalam dunia kesehatan terdapat berbagai laporan kasus dimana bayi lahir dengan ekor neonatal (Kansal et al. 2010; Forte et al. 2021; Hamada Takrouney et al. 2023). Kasus seperti ini tergolong anomali koegenital yang langka dan ditangani dengan operasi pembedahan. 

Menelusuri Jejak Evolusi: Nenek Moyang yang Tidak Memiliki Ekor

Bapak evolusi Charles Darwin menjelaskan bahwa makluk hidup mengalami evolusi melalui seleksi alam (Darwin 1859). Oleh karena itu dalam rangka menelusuri keberadaan ekor pada manusia, perlu dijabarkan timeline evolusi manusia (Homo sapiens). Berdasarkan data imunologi, kluster kera besar (hominidae) terpisah menjadi dua sekitar 5 juta tahun yang lalu (Sarich dan Wilson 1967). Orangutan (Pongo pygmaeus) terpisah, sedangkan homo, simpanse dan gorilla membentuk kluster sendiri. 

Selanjutnya Sibley dan Ahlquist (1984) menggunakan metode DNA-DNA hibridisasi berhasil mengungkapkan kekerabatan kluster homid ini lebih detail, dimana simpanse lebih dekat dengan manusia dibandingkan gorilla. Simpanse dan manusia berpisah sekitar 6.3-7.7 juta tahun lalu, sedangkan gorilla berpisah lebih dulu antara 8-10 juta tahun yang lalu. Hasil kajian Sibley dan Ahlquist lebih sesuai dengan pendekatan genomik saat ini, serta mengoreksi temuan sebelumnya oleh Sarich dan Wilson sebelumnya. Mereka menduga waktu divergensi antara kera kecil (hylobatidiae) dan kera besar (hominidae) sekitar18-22 juta tahun yang lalu. Waktu divergensi ini menjadi patokan dalam mendalami keberadaan ekor pada manusia. Seperti yang di ungkapkan oleh Carol Ward, Profesor bidang Integratif Anatomi dari University of Missouri. Menurut Ward manusia tidak punya ekor karena memang nenek moyang manusia tidak memiliki ekor” (Watson 2026).

Gambar 1 Perkiraan waktu divergensi humanoid berdasarkan data imunologi (Sarich dan Wilson 1967)

Mutasi Genetik menyebabkan Ekor Menghilang

Pendekatan molekuler nampaknya dapat menjelaskan mengapa leluhur kera (hominiodea), termasuk manusia kehilangan ekor di zaman Oligosen akhir hingga awal miosen. Kajian oleh Xia et al. (2024) membandingkan DNA-DNA dari hominoid dan non-hominoid, dengan serangakain eksperimen yang meliputi studi perbandingan genomik, indentifikasi anomali genetik, pengeditan gen (CRISPR) pad sel, pembuatan model tikus transgenik, dan observasi fenotifik. Kajian ini mengungkapkan bahwa terdapat mutasi pada gen pembentuk ekor, yaitu TBXT. Gen TBXT diketahui menginisiasi terbentuknya lapisan mesoderm di awal kehidupan embrio.  Mutasi yang terjadi disebabkan karena adanya penyisipan elemen Alu ke dalam intron gen, sehingga terjadi splicing event berupa pelompatan ekson (exon-skipped). Gen TBXT akan menghasilkan isoform, yaitu protein normal yang utuh (full-lenght) dan protein yang cacat atau terpotong akibat exon-skipped. Hasil percobaan pada tikus menunjukkan bahwa tikus yang direkayasa gen Tbxt-nya lahir dengan ekor yang sangat pendek, atau tidak memiliki ekor sama sekali. Hal ini bergantung pada keseimbangan antara protein isoform. Jika protein cacat mendominasi, maka pembentukkan ekor tidak terjadi sama sekali. 

Daftar Pustaka

Balfour FM. 1880. A treatise on comparative embryology. Volume ke-2. London, UK: Macmillan and Company.

Cai C, Shi O, Shen C. 2011. Surgical treatment of a patient with human tail and multiple abnormalities of the spinal cord and column. Adv Orthop. 2011(1):153797.

Catalla M, Kubis N. 2013. Gross anatomy and development of the peripheral nervous system. Di dalam: Said G, Krarup C, editor. Handbook of Clinical Neurology. Elsevier. hlm 29–41.

Darwin C. 1859. On the origin of species. London, UK: John Murray.

Forte H, Lopes Soares CE, Maria de Holanda Góes Bezerra M, de Araujo Verdiano V, Honorio RS, Brilhante F das CB. 2021. A true human tail in neonate. J Pediatr Surg Case Reports. 66:101801. doi:https://doi.org/10.1016/j.epsc.2021.101801.

Graham A, Richardson J. 2012. Developmental and evolutionary origins of the pharyngeal apparatus. Evodevo. 3(1):24.

Haeckel E. 1894. Systematische phylogenie der protisten und pflanzen. Volume ke-1. Berlin, Germany: Verlag von Georg Reimer.

Hamada Takrouney M, Hussein Thabet O, Abdelkader Osman M, Saad Abdel-Ghaffar H, Mohamed Mostafa M. 2023. Do human beings have a tail? J Pediatr Surg Case Reports. 91:102571. doi:https://doi.org/10.1016/j.epsc.2022.102571.

Hollway GE, Currie PD. 2003. Myotome meanderings. Cellular morphogenesis and the making of muscle. EMBO Rep. 4(9):855.

Kansal R, Agrawal N, Khare S, Khare A, Jain S, Singhal BM. 2010. Newborn with a tail–A genetic throwback. Peoples J Sci Res. 3:15–17.

Lankester ER. 1877. Notes on the embryology and classification of the animal kingdom: Comprising a revision of speculations relative to the origin and significance of the germ-layers. J Cell Sci. 2(68):399–454.

Luttrell SM, Swalla BJ. 2015. Chapter 7 – Genomic and Evolutionary Insights into Chordate Origins. Di dalam: Moody SABT-P of DG (Second E, editor. Oxford: Academic Press. hlm 115–128.

Sarich VM, Wilson AC. 1967. Immunological time scale for hominid evolution. Science (80- ). 158(3805):1200–1203.

Satoh N, Rokhsar D, Nishikawa T. 2014. Chordate evolution and the three-phylum system. Proc R Soc B Biol Sci. 281(1794).

Sibley CG, Ahlquist JE. 1984. The phylogeny of the hominoid primates, as indicated by DNA-DNA hybridization. J Mol Evol. 20(1):2–15.

Walmsley R. 1953. The development and growth of the intervertebral disc. Edinb Med J. 60(8):341.

Watson SK. 2026. Why humans don’t have tails. Pop Sci. [diakses 2026 Mei 23]. https://www.popsci.com/science/why-humans-dont-have-tails/.

Xia B, Zhang W, Zhao G, Zhang X, Bai J, Brosh R, Wudzinska A, Huang E, Ashe H, Ellis G. 2024. On the genetic basis of tail-loss evolution in humans and apes. Nature. 626(8001):1042–1048.