NTT Waspada Kekeringan 2027

Sorghum bicolor (Sumber: Pexels)

Berbagai badan atau lembaga, baik nasional maupun internasional, telah memprediksi bahwa akan terjadi El Nino di 2026. Bahkan tidak sedikit yang menyebutnya sebagai super El Nino, godzilla el nino, atau monster El Nino. Berkaitan dengan terminologi, World Meteorological Organization (WMO) cenderung tidak menggunakan istilah-isilah yang beta sebutkan sebelumnya, karena bukan merupakan istilah dalam standar operasional mereka (WMO 2026). Kategori El Nino menurut WMO terdiri atas lemah (weak), sedang (moderate), kuat (strong), dan sangat kuat (very strong). 

Berdasarkan pengamatan pada Multi-Model ENSO Strenght Probability – Nino 3.4 pada laman https://dashboard.theclimatebrink.com, diketahui bahwa terdapat persentase kejadian El Nino sangat kuat (indeks ≥ 2.0ºC) mulai muncul pada bulan Juni-Juli-Agustus 2026 sebesar 40% dan mencapai puncak pada November-Desember-Januari 2027 sebesar 95%. Hal ini seiring dengan peningkatan suhu permukaan laut dari 1.44ºC pada Juni dan akan mencapai puncak pada Desember menjadi 3.39ºC. El Nino kategori sangat kuat terakhir terjadi pada 2015, dimana suhu permukaan laut di Samudera Pasifik meningkat sebesar 2.72ºC pada November tahun itu.  

Dampak paling signifikan dari kejadian El Nino adalah perubahan pola curah hujan (Lenssen et al. 2020).  Diduga, wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering antara bulan Juni 2026 sampai Januari 2027. Suhu yang lebih tinggi akan memicu evaporasi yang tinggi. Hal ini dapat menyebabkan penurunan air tanah, yang semakin diperparah karena berkurangnya presipitasi. Kekeringan menjadi dampak yang tak terhindarkan. 

NTT telah dikenal memiliki iklim semi arid. Hal ini disebabkan karena letak geografis NTT yang dekat dengan Australia, serta sedikitnya uap air yang diperoleh dari wilayah asia dan samudera pasifik (Kuswanto et al. 2019). Secara rata-rata, NTT memiliki suhu 33.2ºC dengan jumlah hari hujan per tahun antara 44-61 hari. Berdasarkan fakta ini, secara sederhana bisa dikatakan bahwa NTT akan semakin kering dan mengalami kekeringan saat terjadi El Nino.

Penelitian oleh Krisnayanti et al. (2023) yang menganalisis indeks kekeringan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) dengan data curah hujan antara 1998-2018 menunjukkan bahwa kekeringan terparah di dua wilayah ini terjadi pada tahun 2015-2016. Ingat bahwa tahun ini terjadi El Nino dengan kategori sangat kuat. 

Penelitian lain yang dilakukan oleh Kain et al. (2018) menggunakan data hujan selama 30 tahun menunjukkan bahwa kejadian El nino memengaruhi pola hujan di NTT. El nino menyebabkan awal musim hujan lebih lambat (mundur), dimana sebesar 65.5% mundur pada tahun 1997/1998 dan 82.6% mundur pada tahun 2015/2016. Selain itu, El Nino juga menyebabkan curah hujan berkurang dari normalnya. Saat El Nino kuat, curah hujan berkurang 47% – 78% dibawah normal. Dampak lain dari kejadian El Nino adalah pendeknya musim hujan, dimana saat terjadi El Nino musim hujan akan lebih pendek sebesar 70.8% dari keadaan normal. 

Kekeringan merupakan persitiwa kontinu dan memiliki efek berantai (cascading effect). Menurut Wilhite dan Glantz (1985) kekeringan dibagi menjadi kekeringan meteorologi, kekeringan hidrologi, kekerigan pertanian, dan kekeringan sosial ekonomi. Kekeringan meteorologi merujuk pada kondisi kekurangan presipitasi, yang dikombinasikan dengan peningkatan potensial evapotranspirasi pada suatu wilayah dengan jangka waktu yang panjang. Evapotranspirasi yang meningkat menyebabkan defisit kelembaban tanah pada zona perakaran tanaman dan tumbuhan dan memicu kekeringan pertanian. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran musim tanam atau bahkan gagal tanam dan gagal panen. Selanjutnya dapat terjadi kekeringan sosial ekonomi yang di tandai berkurangnya pasokan air untuk memenuhi kebutuhan, termasuk dampaknya secara ekologis dan kesehatan. Jika kita berkaca dari El Nino 2015, BNPB mencatat terjadi defisit air sebesar 20 milyar meter kubik dan 111 ribu hektar lahan pertanian mengalami kekeringan (BNPB 2015).

Skema kategori kekeringan dan dampaknya

Kita perlu bersyukur karena di akhir 2025 sampai awal 2026 terjadi La Nina lemah (WMO 2025), sehingga curah hujan yang tinggi memungkinkan petani melakukan budidaya padi di musim hujan dan beberapa memutuskan untuk menanam di musim kemarau tahun ini. Keputusan ini diambil karena sumber air yang masih tersedia. Namun kita perlu mengantisipasi musim tanam tahun 2027. Hal ini disebabkan karena El Nino akan menggeser musim hujan di tahun setelahnya dan menjadikan musim hujan semakin pendek. Sulit dikatakan, namun fakta ini akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi NTT. Bencana kekeringan dan mungkin saja mengarah pada kelaparan ada di hadapan kita.

Kita perlu bersyukur karena di akhir 2025 sampai awal 2026 terjadi La Nina lemah (WMO 2025), sehingga curah hujan yang tinggi memungkinkan petani melakukan budidaya padi di musim hujan dan beberapa memutuskan untuk menanam di musim kemarau tahun ini. Keputusan ini diambil karena sumber air yang masih tersedia. 

Namun kita perlu mengantisipasi musim tanam tahun 2027. Hal ini disebabkan karena El Nino akan menggeser musim hujan di tahun setelahnya dan menjadikan musim hujan semakin pendek. Sulit dikatakan, namun fakta ini akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi NTT. Bencana kekeringan dan mungkin saja mengarah pada kelaparan ada di hadapan kita.

Istilah ‘Only hard crops grow in hard soil’ nampaknya bisa kita gunakan sebagai upaya untuk menanggulangi kekeringan. Kita tidak bisa terlalu berharap pada tanaman padi sawah yang boros air. Mungkin padi gogo bisa, namun meskipun lebih sedikit membutuhkan air, padi ini tetap membutuhkan air, terutama pada fase vegetatif (sampai 55 HST). Padi sawah maupun padi gogo sangat rentan terhadap cekaman kekeringan. Cekaman kekeringan dapat menurunkan produktivitas padi sebesar 90%, bergantung pada tahap pertumbuhan, durasi, dan intensitas kekeringan (Tang et al. 2023). 

Lalu apa tanaman yang bisa menjadi harapan ?. Sebagai sumber karbohidrat, kita dapat menaruh harapan pada sorgum. Sorgum dikenal dapat beradaptasi pada keadaan defisit air. Kami pernah mengamati sorgum yang dibudidayakan tepat ± 20-30 m pesisir pantai, dan sorgum tersebut dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan malai (Ariefin et al. 2023). Sumber protein kita dapat memanfaatkan leguminosa seperti kacang hijau dan kacang tanah. Simbiosis antara tanaman-tanaman ini dengan bakteri memungkinkannya dapat bertahan pada kondisi defisit air dan cekaman kekeringan. Kami sedang melakukan riset untuk dalam memanfaatkan bakteri pelarut mineral (mineral solubilizing bacteria) sebagai pupuk hayati untuk memacu pertumbuhan padi (gogo dan sawah) di lahan kering NTT. Momen keadaan yang lebih kering di musim tanam 2027 sangat tepat untuk pelaksanaan riset ini. 

Daftar Pustaka

Ariefin MN, Taopan RA, Simanjuntak NA, Liana D, Astuti T, Adi DD. 2023. Uji adaptasi pertumbuhan beberapa varietas sorgum di lahan pasir pantai Desa Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Agrivet  J Ilmu-Ilmu Pertan dan Peternak (Journal Agric Sci Veteriner). 11(2):232–239. doi:10.31949/agrivet.v11i2.6334.

BNPB. 2015. Dampak EL-Nino Tahun 2015 terhadap Kekeringan di Indonesia. [diakses 2026 Jun 26]. https://bnpb.go.id/berita/dampak-el-nino-tahun-2015-terhadap-kekeringan-di-indonesia.

Kain MM, Wahid A, Geru AS. 2018. Analisis Pengaruh El Nino Terhadap Hujan di NTT. J Fis  Fis Sains dan Apl. 3(3):155–162. doi:10.35508/fisa.v3i3.621.

Krisnayanti DS, Pasoa MS, Cornelis R. 2023. Analisis Kekeringan Meteorologi Dengan Menggunakan Metode Standardized Precipitation Index Di Kupang – Nusa Tenggara Timur. J Sumber Daya Air. 19(1):1–12. doi:10.32679/jsda.v19i1.793.

Kuswanto H, Hibatullah F, Soedjono ES. 2019. Perception of weather and seasonal drought forecasts and its impact on livelihood in East Nusa Tenggara, Indonesia. Heliyon. 5(8). https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2019.e02360.

Lenssen NJL, Goddard L, Mason S. 2020. Seasonal forecast skill of enso teleconnection maps. Weather Forecast. 35(6):2387–2406. doi:10.1175/WAF-D-19-0235.1.

Tang L, Wu A, Li S, Tuerdimaimaiti M, Zhang G. 2023. Impacts of climate change on rice grain: a literature review on what is happening, and how should we proceed? Foods. 12(3):536.

Wilhite DA, Glantz MH. 1985. Understanding the drought phenomenon: The role of definitions. Water Int. 10(3):111–120. doi:10.4324/9780429301735-2.

WMO. 2025. WMO Update predicts weak La Niña. [diakses 2026 Jun 27]. https://wmo.int/news/media-centre/wmo-update-predicts-weak-la-nina.

WMO. 2026. WMO: Prepare for El Niño. [diakses 2026 Jun 25]. https://wmo.int/news/media-centre/wmo-prepare-el-nino.